Langsung ke konten utama

Bima Arya, Sosok yang Menjadikan Bogor Kota Paling Peduli Perubahan Iklim

 

Siapa sih yang tak kenal dengan sosok Bima Arya Sugiarto? Bima Arya Sugiarto atau yang lebih dikenal dengan Bima Arya adalah sosok yang kini tengah menjabat sebagai Wali Kota Bogor. Selama masa jabatannya, Bima Arya telah membawa banyak perubahan baik bagi Kota Bogor, salah satunya yaitu menjadikan Bogor diakui sebagai salah satu kota yang paling pedulu terhadap perubahan iklim. Bagaimanakah sosok Bima Arya sebenarnya?

Bima Arya Ia lahir di klinik dr Soekoyo, Paledang, Bogor pada 17 Desember 1972 dari pasangan Toni Sugiarto dan Melinda Susilarini. Ayahnya, Toni Sugiarto adalah seorang perwira tinggi polisi dengan pangkat brigadier jenderal polisi. Ayahnya adalah orang yang cukup terpandang karena pernah bertugas sebagai anggota DPR dari fraksi ABRI serta menjadi salah satu pendiri Paguyuban Bogoriensis. Adapun ibunya, Melinda Susilarini juga cukup terpandang di Bogor karena pernah mewakili Bogor menjadi juara kedua Ratu Pariwisata Jawa Barat dan juara kedua Ratu Indonesia pada 1971.

Masa kecil hingga remajanya ia habiskan secara penuh di Kota Bogor. Pendidikan pertamanya ia mulai dari jenjang Sekolah Dasar di SDN Polisi IV Bogor dan lulus pada 1985. Dari jenjang Sekolah Dasar, ia melanjutkan pendidikannya di SMPN 1 Bogor kemudian lulus pada 1988 dan dilanjutkan di SMAN I Bogor. Pada 1991, ia lulus dari SMAN I dan melanjutkan pendidikannya dengan mengambil jurusan Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Di masa kuliahnya inilah ia semakin aktif berorganisasi. Di Universitas Parahyangan, ia sempat menjabat sebagai wakil ketua Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI), Ketua II Senat Mahasiswa FISIP dan Badan Pekerja Sekretariat Forum Mahasiswa HI Indonesia. Ia juga beberapa kali dipilih sebagai ketua organisasi kepanitiaan. Pada 1995, ia dipilih menjadi ketua umum Panitia Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (PNMHII) ke VII di Gedung Asia Afrika Bandung.

Pada tahun 1996, ia lulus dari Universitas Katolik Parahyangan dengan gelar Sarjana Ilmu Politik. Di tahun yang sama pula, ia melanjutkan studinya di Monash University, Melbourne dengan mengambil jurusan Studi Pembangunan. Ia lulus dari Monash University dengan gelar Master of Arts pada 1998 dan kembali ke tanah air untuk mengawali kariernya sebagai staf pengajar di jurusan HI Univeritas Katolik Parahyangan. Pada 2001, ia memutuskan untuk berhenti mengajar di Universitas Katolik Parahyangan dan memulai karier baru di Universitas Paramadina sebagai Asisten Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan. Tahun 2002, ia kembali melanjutkan studinya di Australian National University, Canberra Australia setelah mendapatkan beasiswa dari pemerintah Australia. Ia lulus dari Australian National University pada 2006 dengan gelar Doktor Ilmu Politik.

Sepulangnya ia ke tanah air, ia kembali ke Jakarta dan mengajar di Universitas Paramadina. Ia juga memjadi pemimpin the Lead Institute, sebuah pusat studi di bawah naungan Universitas Paramadina dan menjadi dosen Pascasarjana Universitas Paramadina.

Pada 2008, ia mendirikan lembaga konsultan politik bernama Charta Politika Indonesia. Di sana, ia menjabat sebagai direktur eksekutif (2008 – 2010) dan memulai karier politiknya sebagai konsultan dan pengamat politik. Dengan analisisnya tajam dan mendalam serta komentarnya yang selalu didukung dengan data dan survei menadikan Bima sebagai pengamat politik yang unggul hingga sering tampil di layar kaca.

Setelah beberapa tahun menjadi pengamat politik, ia mulai tertantang untuk masuk ke dalam praktik politik itu sendiri. Pada tahun 2010 ia akhirnya mengundurkan diri dari lembaga Charta Politika Indonesia dan masuk menjadi pengurus pusat DPP PAN periode 2010-2015. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 2013, Bima Bima Arya maju mencalonkan diri sebagai wali kota pada Pilkada Bogor bersama Usmar Hariman dan berhasil menang dengan perolehan suara sebanyak 32.835 atau 33,14 persen mengalahkan kandidat lainnya. Bima Arya bersama Usmar Hariman mulai menjabat sebagai pemimpin Bogor periode 2014 – 2019 setelah dilantik oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan pada 7 April 2014 di Gedung DPRD Kota Bogor.

Di periode pertama masa jabatannya, ia memiliki visi misi untuk menjadikan Kota Bogor lebih baik, dengan mereformasi birokasi, membenahi masalah transportasi, sampah, dan perizinan. Bima juga menentang keras adanya diskriminasi suku, ras, agama, antar golongan dan berkomitmen menjaga toleransi di Kota Bogor.

Pada Pilkada Bogor 2018, Bima Arya kembali maju mencalonkan diri sebagai wali kota bersama Dedie Rachim dan kembali berhasil menang dengan perolehan suara sebanyak 215.708 atau 43,64 persen mengalahkan kandidat lainnya. Bima Arya kembali dilantik menjadi Wali Kota Bogor periode 2019 – 2024 bersama Dedie Rachim sebagai wakilnya pada 20 April 2019 di Aula Barat Gedung Sate Bandung oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

Saat ini, Bima Arya tengah fokus menjalankan program-programnya bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Adapun fokus programnya saat ini adalah program yang berkaitan dengan isu lingkungan dan perubahaan iklim yang salah satunya telah diterapkan melalui kebijakan yaitu Program Bogor Tanpa Kantong Plastik (Botak). Melalui program ini, jumlah sampah plastik di Kota Bogor terbukti mengalami penurunan. Tercatat sejak dijalankannya program ini, sampah plastik di Bogor mengalami pengurangan sebesar 10% dari total 2,5 ton per harinya. Melalui program yang dibuatnya inilah akhirnya Bogor mendapat predikat sebagai salah satu kota di Indonesia yang paling peduli terhadap perubahan iklim berdasarkan hasil riset yang dilakukan Pusat Inovasi Kota dan Komunitas Cerdas Institut Teknologi Bandung (ITB).

Selain sertifikat tersebut, Bima Arya pribadi juga telah banyak meraih sertifikat-sertifikat lain, seperti Best Government Officer for Acelerated Growth pada ajang  People of The Year 2020  yang diselenggarakan oleh Metro TV pada Juni 2020, Media Sosial Award pada 2015,  Wali Kota Entrepreneur Award 2017 Kellog Inovation Network (KIN) ASEAN pada 2017, World No Tobacco Day Awards dari WHO pada 2019, Penghargaan Pramuka Lencana Pancawarsa II pada 2019, Earth Hour Leader 2019, dan Anugerah Kebudayaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dalam Puncak Hari Pers Nasional (HPN) pada 9 Februari 2021 di Jakarta. —VZ


https://kompaspedia.kompas.id/baca/profil/tokoh/wali-kota-bogor-bima-arya-sugiarto

https://megapolitan.kompas.com/read/2022/02/15/18305141/masa-jabatannya-sebagai-wali-kota-bogor-sisa-2-tahun-bima-arya-fokus?page=all

https://en.wikipedia.org/wiki/Bima_Arya_Sugiarto


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini Dia 5 Wahana Seru JungleLand Adventure Theme Park Bogor yang Wajib Dicoba

JungleLand Adventure Theme Park Tak hanya memiliki wisata alam, Bogor juga memiliki tempat wisata berbentuk theme park yang di dalamnya terdapat banyak sekali wahana seru yang bisa dicoba oleh pengunjung. JungLeland Adventure Theme Park adalah sebuah taman hiburan yang berlokasi di kaki Gunung Pancar, Sentul Bogor. Theme park dengan luas 35 hektar ini terbagi atas 4 zona yang di dalamnya terdapat total 37 wahana permainan yang bisa dicoba oleh para pengunjung. Nah, berikut ini adalah 5 rekomendasi wahana seru yang wajib kamu coba di JungleLand Adventure Theme Park Bogor! 1.        Disc’O Wahana Disc'O (Foto: BakrieLand) Wahana Disc’O adalah wahana yang dikhususkan untuk pengunjung dewasa dengan minimal tinggi badan 135 cm. Wahana ini berbentuk lempengan bundar seperti piring raksasa yang di atasnya terdapat tempat-tempat duduk. Dari atas tempat duduk, kamu akan dibawa berputar 360 derajat sambil diayunkan setinggi 15 meter ke kanan dan ke kiri. Wahana yang ...

Titik Kumpul Cafe, Cafe Berkonsep Beach Club ala Bali

Titik Kumpul Cafe Puncak Bogor (Foto: instagram.com/titik.kumpullll) Bali terkenal dengan beach club-nya yang menjadi tempat nongkrong hits para wisatawan baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Ingin mencoba nongkrong di beach club ala Bali? Tak usah jauh-jauh. Kini, di Puncak Bogor ada café yang dibuat mirip dengan konsep beach club Bali, lho, Titik Kumpul namanya. Titik Kumpul adalah sebuah café kekinian di daerah Puncak Bogor yang mengusung konsep beach club ala Bali. Namun, tak sepenuhnya dibuat mirip dengan beach club Bali, Titik Kumpul ini memiliki keunikan tersendiri, lho. Titik Kumpul memadukan konsep beach club modern dengan konsep tradisional khas Sunda yang ditandai dengan banyaknya ornamen kayu dan bambu pada arsitekturnya. Dua konsep tersebut dipisahkan oleh area indoor dan outdoor . Area indoor atau area yang berada di dalam ruangan, kental akan sentuhan tradisional dengan banyaknya penggunaan ornamen-ornamen kayu, seperti tangga kayu, meja dan kursi-kursi kayu, s...

Jembatan Merah Sang Saksi Sejarah

  Jembatan Merah Bogor (Foto: SINDOnews) Siapa yang tak tahu Jembatan Merah? Jembatan Merah adalah salah satu ikon yang cukup vital bagi aktivitas masyarakat Bogor karena lokasinya yang mengarah ke pusat kota. Namun tahukah kamu bahwa jembatan yang sekarang dikenal dengan kemacetannya ini rupanya pernah menjadi saksi sejarah di masa lalu? Tahun ke tahun telah terlewati sejak 1881 hingga sekarang. Jembatan Merah, satu ikon Kota Bogor yang dibangun pada tahun tersebut rupanya pernah menjadi saksi sejarah di masa masa lalu. Sejak awal dibangunnya, jembatan ini telah dijuluki dengan sebutan Jembatan Merah atau Rode Brug oleh Belanda. Konon katanya, dijuluki jembatan merah karena jembatan ini dibangun dari batu bata berwarna merah. Di masa penjajahan Belanda, jembatan yang membentang melintasi Sungai Cipakancilan ini pernah menjadi saksi gigihnya rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya. Saat itu, para pejuang Indonesia memasuki Kota Bogor melalui jembatan ini untuk me...